Ini adalah stiker di sebuah mobil yang saya jepret di parkiran wisata Gunung Galunggung. Menarik ya! Secara tipografi (jika hanya dibaca tulisannya saja), maka akan bermakna Together Indonesia, atau dalam bahasa Indonesia, "Indonesia Bersama". Tapi bisa juga dibaca menurut pembedaan warnanya. Jika dibaca hanya pada karakter yang berwarna merah dan putih, maka akan terbaca sebagai Together In One, atau dalam bahasa Indonesia. "Bersama Dalam Satu".
Hmm, sarat dan dobel makna. Bagus yaa. Nasionalis lagi. Inilah bentuk Bhineka Tunggal Ika di zaman sekarang. Hohoho.
Open House Unit (OHU)adalah sebuah gelaran wajib tiap tahun di ITB. Yang dimanja tentu si bungsu: mahasiswa baru. Acara ini memang biasanya masuk dalam rangkaian acara penyambutan mahasiswa baru ke kampus. OHU masuk dalam rangkaian inisiasi tentang isi kampus. Tujuan utamanya adalah membuka wawasan mahasiswa baru tentang kegiatan non-kurikuler yang ada di ITB. Yang akan meramaikan tentu saja banyak: utamanya adalah berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa yang aktif (maupun kurang aktif) di kampus. Pokoknya semua nama UKM berkumpul di sini. Mengenalkan, dan tentu saja berusaha memikat mahasiswa 2008 untuk turut meramaikan UKM mereka tahun berikutnya.
Pada OHU 2008 ini akan ditampilkan unit-unit seni, budaya, agama, olahraga, pendidikan, dan unit kajian. Selain pameran stand dan kegiatan, ada pertunjukkan dan panggung. Pengisi panggung adalah teman-teman berbakat dari mahasiswa. Ada kolaborasi pertunjukkan dari beberapa unit kesenian, dan tidak lupa band mahasiswa. Dari tahun ke tahun, OHU tak pernah tak ramai, jadi jangan lupa datang dan saksikan ya. Acara ini seperti pesta tahunan di ITB. Semua karya cipta, seni, ide, dan kreativitas tumpah ruah dalam lapang kampus.
Datanglah. Karena Kriuk! juga akan ada di sana. Mari kita kembali bertemu offline. Temukan juga karya-karya hebat lainnya, pada Minggu, 17 Agustus 2008, di ITB. Acara akan berlangsung mulai pukul 11, lepas kita upacara bersama memperingati hari besar kemerdekaan kita yang ke-63. Datang kawan, ajak semua rekan. Acara ini terbuka untuk semua umat dunia, dan tidak dipungut biaya. Untuk sebuah apresisasi kreativitas, sampai bertemu di kampus ITB besok! :)
Satu lagi yang ratingnya terus menanjak di kalangan anak muda. Kaos berwana hitam. Ini seperti must have item buat dimanapun lemari pakaian pemuda Indonesia. Yang nggak punya kaos hitam, boleh protes deh. Every single event: nonton konser musik, nongkrong bareng teman, latihan ekskul, it just feel in a rhyme deh kalo pakai hitam.
Lalu saya merunut kembali kira-kira kenapa ya, pakai kaos hitam itu terasa gaul. Satu perkiraan saya adalah, karena saat banyak orang di sekitar kita pakai warna hitam, dan kita juga pakai warna hitam, maka kita akan memiliki sense belonging dengan mereka. Kita akan merasa tidak ada beda dan jarak dengan lingkungan. Disinilah cikal bakal perasaan ‘gaul’ itu ada. Perasaan mampu membaca situasi tentang apa yang dianggap keren a.k.a cool oleh teman-teman kita. Perasaan diterima, dan akhirnya kita bangga menjadi bagian dari mereka. Saya sangat terbuka lho jika ada hipotesis lain mengenai ini.
Bayangkan 10 tahun lalu, acara-acara televisi di Indonesia. Produk pertelevisian dalam negeri masih sangat minim. Namun, walaupun sangat jarang, produk pertelevisian Indonesia saat itu bisa dibilang relatif bagus walaupun tetap, belum bisa bersaing dengan produk eksport.
Hari ini, pagi ini, siang ini, nanti malam, acara televisi sepertinya tidak memberi sesuatu yang menarik lagi bagi saya, mungkin juga bagi kalian. Entah darimana asalnya - Kalau boleh menebak, mungkin budaya berseragam di SD bisa menjadi salah satu penyebabnya - tetapi sekarang, stasiun-stasiun televisi menyuguhkan sesuatu yang relatif seragam. Adapun beberpa stasiun televisi yang memang menarik menyuguhkan sesuatu yang 'beda', namun tetap saja, semuanya memiliki benang merah yang menyatukan Indonesia - Mungkin karena Bhinneka Tunggal Ikka - yaitu kontrol kualitasnya yang entah mengapa jauh dari kata baik.
Mungkin industri televisi sekarang hanya berfikir mengenai keuntungan yang berlipat-lipat saja. Tidak salah memang mengejar keuntungan yang tinggi. Namun, sebagai sebuah media yang memberikan informasi kepada bangsa Indonesia, yang baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi panutan anak-anak sampai kakek-nenek, yang juga menjadi salah satu sarana belajar insan berfikir (manusia) industri televisi memegang tanggung jawab yang besar dalam memajukan bangsa Indonesia. Jadi, kualitas menjadi hal yang harus diutamakan tentunya.
“Ketik Reg spasi bla..bla..bla.., kirim ke bla..bla..bla.., hadiahnya ratusan juta lho….”.
Udah sering denger yang kayak gitu kan, hal yang di kategorikan Benny & Mice dalam 100 Tokoh yang “Mewarnai” Jakarta (Jakarta, KPG: 2008) sebagai “Kuis bodoh, dengan pertanyaan bodoh, dan jawaban lebih bodoh”.
Ada yang tau PS3? Nintendo Wii? Xbox 360? Gw yakin banyak, tapi kalo ditanya tentang dhakonan, dentuman lamban, mokaotan, maggaleceng, aggalacang, atau nogarata, ada yang tau? Oke, pertanyaannya diganti, Ada yang tau Congklak? Kalo ada yang minimal masih tau atau pernah denger, bagus. Kalo ada yang masih ingat cara mainnya, lebih bagus. Kalo ada yang masih punya peralatan mainnya dan masih sering main, itu bagus banget.
Cathy bangun tidur, membuka laptop, lalu mencolok kabel LAN atau modem 3G-nya. Sembari menguap dan ngulet, tentunya masih dengan rambut acak-acakan, dia browsing Friendster, mengisi Bulletin Board dengan hal-hal yang mungkin orang lain malas membacanya. Dia kemudian meng-approve aplikasi-aplikasi kiriman teman di Facebook, yang dia sendiri tidak mengerti aplikasi itu untuk apa. “Ah, approve aja, biar profil gw rame”, pikirnya. Akun e-mail-nya yang penuh spam dan notifikasi Friendster sudah tidak pernah dibukanya.
Indie, berasalah dari kata independent, yang berarti merdeka, bebas (yang bertanggung jawab) melakukan sesuatu tanpa paksaan. Indie dalam dunia musik berarti sebuah pergerakan, pergerakan menentang paksaan, paksaan dari pihak-pihak yang mematikan kreativitas dan kebebasan bermusik sesuai keinginan hati.
Indie dalam dunia musik, bukan sebuah aliran musik. Indie, lebih cocok dikatakan sebagai idealisme bermusik, idealisme berseni, meluapkan seluruh perasaan, kreativitas, dan kemampuan tanpa dibatasi oleh permintaan pasar, kecenderungan pasar, kebutuhan akan brand image, dan hal-hal lainnya.
Musik adalah seni, bukan industri, jadi lupakan semua batasan itu, kejar idealisme bermusik. Apapun aliran musik yang dimainkan, rock, pop, jazz, hiphop, metal, dll., semua bisa menjadi independent, bisa menjadi band indie. Semuanya hanyalah pilihan, pilihan untuk dijajah oleh industri musik, atau untuk berdiri dengan idealisme sendiri. Pilihan mengikuti permintaan pasar atau menciptakan pasar sendiri.
Suatu hari saya berjalan-jalan melewati sebuah toko fotografi. Tiap lewat sana, saya selalu mengagumi betapa ramainya toko ini. Banyak sekali mobil dan motor yang berjejal parkir. Kemudian mata saya berhenti memandang petugas parkir di sana. Seperti biasa, petugas parkir tidak akan berada jauh dari mobil, dan menggunakan seragam jingga. Yang membuat saya tertegun adalah, bahwa petugas ini sedang menggunakan earphone, sambil mengoperasikan iPod-nya. Ya, saya yakin tidak salah lihat. Itu iPod.
Lepas dari masalah petugas parkir yang berrizki lebih dan mampu memiliki iPod (dan saya tidak), saya berfikir tentang earphone yang dia gunakan. Tidak sekali ini saya melihat orang ber-earphone. Saya sering melihat mahasiswa berjalan kaki menggunakan earphone, orang duduk di angkot menggunakan earphone, bahkan ada juga orang yang sedang mengobrol dengan teman di depan mukanya, namun masih juga menggunakan earphone. Koreksi saya jika saya salah. Namun sepertinya sekarang menyumpal lubang telinga dengan benda bernama earphone jadi sesuatu yang sangat nge-trend di kalangan manapun.
pah·la·wan <n> orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yg gagah berani; -- bakiak suami yg sangat patuh (takut) kpd istrinya; -- kesiangan 1> orang yg baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir; 2> orang yg ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang;
ke·pah·la·wan·an n perihal sifat pahlawan (spt keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan)
Ingat pelajaran PSPB teman? Kependekan dari Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Nah lho, masih inget nggak kepanjangannya. Senyum-senyum deh ingat zaman SD dulu. Sebagai bangsa yang besar, pantaslah pelajaran mengingat pahlawan dimasukkan dalam kurikulum belajar sekolah Indonesia. Dari tingkat SD hingga SMA pelajaran tersebut sudah menyelip diantara Matematika, Akuntansi dan teman-temannya. Tak heran kalau otak kita menyimpan nama-nama besar seperti Imam Bonjol, Teuku Umar, Hassanuddin, Pangeran Diponegoro dan nama-nama lainnya.
Tiga kata itu yang selalu Kriuk! kumandangkan untuk mengajak teman-teman melakukan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.
Berani
Untuk memulai sebuah perubahan, hal yang pertama kali harus dimiliki didalam diri kita adalah berani. Berani untuk berubah, berani untuk bergerak, berani untuk berbeda, berani untuk mengajak. Berani, dilambangkan dengan sebuah kepalan tangan, bukan berarti anarki, tetapi berani menghadapi rintangan yang menghadang didepan.
Belajar
Setelah memiliki keberanian, untuk bisa melakukan perubahan kita harus belajar, terus, dan terus belajar. Karena dengan belajarlah kita dapat mengikuti perkembangan zaman. Dengan belajar, kita akan selalu awet muda. Belajar, bukan hanya membaca buku pelajaran ataupun memperhatikan guru mengajar. Belajar, mengamati, memahami, dan lalu mencoba.
Berbuat
Dengan keberanian dan ilmu yang dimiliki, sekarang saatnya untuk berbuat, saatnya untuk melakukan sebuah perubahan. Perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan dibidang apapun sesuai yang kita tekuni, sesuai yang kita senangi. Berbuat untuk Indonesia yang lebih baik.
Berani Belajar Berbuat, tiga hal yang kami terapkan dalam kehidupan kami, dan kami berharap teman-teman juga melakukannya, selalu melakukannya, demi meneruskan perjuangan para pemuda Indonesia sesuai sumpah pemuda 100 tahun lalu.
Melihat gambar ini, mengingatkan akan masa kecil saya. Bermain tentara-tentaraan, perang-perangan. Membela tanah lapang. Mengingat sebentar lagi 17 Agustus, jadi teringat cerita-cerita, film-film juga diorama-diorama di museum, yang menggambarkan gigihnya pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia memperjuangkan hak bangsa Indonesia untuk merdeka.
Melihat gambar ini, mengenang jasa para pejuang, akhirnya merasa malu. Malu karena telah menyia-nyiakan kemerdekaan yang telah mereka rebut dengan susah payah dari tangan penjajah. Malu karena menganggap semua itu adalah hal spele. Malu karena bolos upacara bendera. Malu karena tidak bangga pada negeri sendiri. Malu karena menggunakan produk dari luar negeri.
Yah, kalau memang lebih bagus yang produk luar bagaimana dong?
Ya kita buat dong produk dalam negeri yang bagus. Gak bisa? Tidak ada kata 'Gak bisa'. Yang ada belum bisa.
Makanya, kita pasti bisa merdeka, merdeka yang benar-benar merdeka. Merdeka yang seutuhnya. Merdeka luar dalam. Merdeka lahir batin.
Kalau sekarang belum, suatu saat nanti kita pasti bisa. Yang harus kita lakukan adalah berusaha dan terus berusaha. MERDEKA!!
Tidak ada kata tidak untuk merdeka.
Merdeka Ataoe Beloem!!
Malem minggu bingung mau berbuat apa? Mau ngajak gebetan jalan tapi tidak ada ide akan kemana? Daripada tidak jelas dan tiada bermanfaat, mending kamu datang ke acara syukuran kami, The Blessing! Setelah kami memperkenalkan diri di posting sebelumnya, saatnya kami menunjukkan diri. Tampil ke hadapan kamu semua, sekalian berdo’a bersama untuk kesuksesan kita semua.
Agustus telah tiba. Inilah bulan bersejarah buat Indonesia. Bulan yang dinanti banyak orang. Segala lapisan masyarakat, instansi, sampai tempat hiburan dan tempat perbelanjaan biasanya turut ramai pada bulan ini. Semoga bukan hanya gelaran diskon besar di toko-toko ya, yang bikin teman semua cinta dengan datangnya bulan ini.
Tanggal tujuh belas, enam puluh tiga tahun yang lalu, Indonesia resmi dinyatakan merdeka. Buah dari perjuangan dan perlawanan selama beratus tahun akhirnya bisa terpetik. Semua rakyat menyambut antusias, semangat, dan bergembira. Wah, mungkin rasanya ibarat dapat lotere seratus juta Rupiah tuh. Alamakjang senang.
Dear All,
Setelah mencoba mengundang teman-teman sekalian untuk mampir kesini, akhirnya tibalah kami untuk memperkenalkan diri. Seperti pepatah yang selalu diucapkan seantero Indonesia waktu berkenalan, tak kenal maka tak sayang, maka here we are, mari kita berkenalan.
















